About

Buka Semua | Tutup Semua

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 24 April 2015

Artikel Seminar Komputasi Modern

Menuju Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Melalui Cloud Computing


Pendahuluan

Pertanian berkelanjutan merupakan tujuan strategis idaman pembangunan pertanian seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pesatnya kemajuan IPTEK termasuk kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) hingga hadirnya teknologi Cloud computing atau komputasi awan akan sangat membantu tercapainya tujuan di atas. Pembangunan pertanian berkelanjutan dalam era globalisasi ini meningkatkan ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, politik, sosial dan budaya.

TIK berperan dalam mendukung tersedianya informasi pertanian yang relevan dan tepat waktu. Informasi hasil-hasil penelitian dan inovasi teknologi di bidang pertanian membantu upaya peningkatan produksi komoditas pertanian, sehingga tercapai pembangunan pertanian yang diharapkan. Informasi dan pengetahuan tentang pertanian akan menjadi pemicu dalam menciptakan peluang untuk pembangunan pertanian dan ekonomi sehingga terjadi pengurangan kemiskinan. TIK dalam sektor pertanian yang tepat waktu dan relevan memberikan informasi yang tepat guna kepada petani untuk pengambilan keputusan dalam berusahatani, sehingga efektif meningkatkan produktivitas, produksi dan keuntungan.

Cloud Computing

Istilah Cloud Computing akhir-akhir ini semakin sering terdengar. Namun sebenarnya imple-mentasi konsepnya sendiri sudah ada sejak puluhan tahun lalu, sebelum internet berkembang seperti sekarang. Saat ini memang cloud computing identik dengan internet. Namun bila dilihat dari konsepnya, cloud juga ada pada jaringan yang lebih kecil, seperti LAN atau MAN.

Kehadiran cloud computing pada awalnya untuk kalangan industri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hartig (2008), Cloud computing is a new model of computing that is widely being utilized in today's industry and society. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi penerapan teknologi ini, antara
lain:
(1) Ini adalah sebuah model layanan berbasis Internet untuk menampung sumberdaya sebuah perusahaan. Artinya sebuah perusahaan tak perlu lagi memiliki atau mendirikan infrastruktur lantaran sudah ada perusahaan lain yang menyediakan “penampung” di cloud alias Internet.
(2) Sebuah perusahaan tak perlu lagi mengalokasikan anggaran untuk pembelian dan perawatan infrastruktur dan software.
(3) Perusahaan pun tak perlu memiliki pengetahuan serta merekrut tenaga pakar dan tenaga pengontrol infrastruktur di “cloud” yang mendukung mereka.

Karakteristik Cloud Computing

National Institute of Standards and Technology (NIST)  mengidentifikasi lima karakteristik penting dari cloud computing (Mell & Grance, 2009) sebagai berikut:
1. On-demand self-service. Pengguna dapat memesan dan mengelola layanan tanpa interaksi manusia dengan penyedia layanan, misalnya dengan menggunakan, sebuah portal web dan manajemen interface. Pengadaan dan perlengkapan layanan serta sumberdaya yang terkait terjadi secara otomatis pada penyedia.
2. Broad network access. Kemampuan yang tersedia melalui jaringan dan diakses melalui mekanisme standar, yang mengenalkan penggunaan berbagai platform (misalnya, telepon selular, laptop, dan PDA).
3. Resource pooling. Penyatuan sumberdaya komputasi yang dimiliki penyedia untuk melayani beberapa konsumen menggunakan model multi-penyewa, dengan sumberdaya fisik dan virtual yang berbeda, ditetapkan secara dinamis dan ditugaskan sesuai dengan permintaan konsumen. Ada rasa kemandirian lokasi bahwa pelanggan umumnya tidak memiliki kontrol atau pengetahuan atas keberadaan lokasi sumberdaya yang disediakan, tetapi ada kemungkinan dapat menentukan lokasi di tingkat yang lebih tinggi (misalnya, negara, negara bagian, atau datacenter). Contoh sumberdaya termasuk penyimpanan, pemrosesan, memori, bandwidth jaringan, dan mesin virtual.
4. Rapid elasticity. Kemampuan dapat dengan cepat dan elastis ditetapkan.
5. Measured Service. Sistem cloud computing secara otomatis mengawasi dan mengopti-malkan penggunaan sumberdaya dengan memanfaatkan kemampuan pengukuran (measuring) pada beberapa tingkat yang sesuai dengan jenis layanan (misalnya, penyimpanan, pemrosesan, bandwidth, dan account pengguna aktif). Penggunaan sumberdaya dapat dipantau, dikendalikan, dan dilaporkan sebagai upaya memberikan transparansi bagi penyedia dan konsumen dari layanan yang digunakan.

Pemanfaatan Cloud Computing Dalam Pembangunan Pertanian yang Berkelanjutan
 
Visi pembangunan pertanian berkelanjutan adalah terwujudnya kondisi ideal skenario konstitusi Indonesia yang disebut adil dan makmur, dan mencegah terjadinya lingkaran malapetaka kemiskinan. Visi ini diterima secara universal sehingga pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) menjadi prinsip dasar pembangunan pertanian secara global, termasuk di Indonesia. Oleh karena itulah pengembangan sistem pertanian menuju usahatani berkelanjutan merupakan salah satu misi utama pembangunan pertanian di Indonesia.

 Pembangunan pertanian berkelanjutan diimplementasikan ke
dalam rencana pembangunan jangka panjang Kementerian Pertanian seperti yang tertuang dalam visi jangka panjangnya sebagai berikut: “Terwujudnya sistem pertanian industrial berdaya saing, berkeadilan dan berkelanjutan guna menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pertanian”.

Pertanian industrial adalah sosok pertanian yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) pengetahuan merupakan landasan utama dalam pengambilan keputusan, memperkuat intuisi, kebiasaan, atau tradisi; (2) kemajuan teknologi merupakan instrumen utama dalam pemanfaatan sumberdaya; (3)
mekanisme pasar merupakan media utama dalam transaksi barang dan jasa; (4) efisiensi dan produktivitas sebagai dasar utama dalam alokasi sumberdaya; (5) mutu dan keunggulan merupakan orientasi, wacana, sekaligus tujuan; (6) profesionalisme merupakan karakter yang menonjol; dan (7)
perekayasaan merupakan inti nilai tambah sehingga setiap produk yang dihasilkan selalu memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Sektor pertanian berperan sangat strategis dalam pengentasan penduduk miskin di wilayah pedesaan karena sebagian besar penduduk miskin di wilayah pedesaan bergantung pada sektor tersebut. Dengan kata lain, sektor pertanian merupakan sektor yang sangat strategis untuk dijadikan sebagai
instrumen dalam pengentasan penduduk miskin. Kemajuan sektor pertanian akan memberikan kontribusi besar dalam penurunan jumlah penduduk miskin di wilayah pedesaan. Demikian pula, basis bagi partisipasi petani untuk melakukan perencanaan dan pengawasan pembangunan pertanian harus dibangun sehingga petani mampu mengaktualisasikan kegiatan usahataninya secara optimal untuk menunjang pertumbuhan pendapatannya. Hasil-hasil pembangunan harus terdistribusi makin merata antar sektor, antar subsektor dalam sektor pertanian dan antar lapisan masyarakat agar tidak ada lagi lapisan masyarakat yang tertinggal dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan meningkat.

Dalam “World Summit on the Information Society five years on: Information and communications Technology for Inclusive Development” (ESCAP 2008) dinyatakan bahwa wilayah Asia-Pacific menghadapi berbagai tantangan dalam menghadapi target tujuan pembangunan pada millennium pertama (antara 1990 dan 2015), sejumlah penduduk menderita karena kelaparan. Keberlanjutan pertanian dan keamanan pangan terancam oleh rendahnya hasil pertanian, miskinnya pengelolaan sumber daya tanah dan air, serta pendidikan tenaga kerja bidang pertanian yang berada di bawah standar. Kondisi penduduk tersebut juga sangat rentan terhadap bencana, seperti kekeringan, banjir, gempa bumi dan tanah longsor. Teknologi informasi dan komunikasi dapat diterapkan dalam mendukung manajemen sumber daya, pemasaran, penyuluhan dan mengurangi resiko kehancuran untuk membantu meningkatkan produksi pangan dan mengurangi ancaman terhadap ketahanan pangan.

Hasil penelitian Wahid (2006) terhadap pemanfaatan kafe internet, faktanya diketahui bahwa penggunaan internet (aplikasi teknologi informasi) cenderung dimanfaatkan khususnya untuk meningkatkan kapabilitas pendidikan secara personal dan pengalaman internet, sekolah-sekolah di
Indonesia dan negara berkembang lainnya dapat memainkan peranan yang penting dalam mengembangkan sikap dan keahliannya untuk meningkatkan manfaat sosial dari penggunaan web. Hal ini berarti juga mendidik masyarakat dalam bagaimana caranya menggunakan web tersebut untuk
mencari informasi yang tepat dan relevan dalam bahasa yang dapat dipahami. Selanjutnya, Purbo (2002) memiliki argumentasi bahwa pergerakan golongan akar rumput (grassroots movements) mendorong pengembangan akses dan pemanfaatan internet di Indonesia.

Meskipun masih terdapat beberapa kendala sehingga pemanfaatan TIK menjadi sangat kompleks dan sulit untuk diadopsi, TIK sebenarnya dapat menyediakan kesempatan yang lebih besar untuk mencapai suatu tingkatan tertentu yang lebih baik bagi petani. Hal ini ditunjukkan ketika beberapa lembaga penelitian dan pengembangan menyampaikan studi kasus yang mendeskripsikan bagaimana
TIK telah dimanfaatkan oleh petani dan stakeholders usahawan pelaku bidang pertanian sehingga memperoleh peluang yang lebih besar untuk memajukan kegiatan usaha taninya. Keberhasilan pemanfaatan TIK oleh petani di Indonesia dalam memajukan usahataninya ditunjukkan oleh beberapa kelompok tani yang telah memanfaatkan internet untuk akses informasi dan promosi hasil produksinya.

Manfaat yang dapat diperoleh melalui kegiatan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (Mulyandari 2005), khususnya dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di antaranya adalah:
1. Mendorong terbentuknya jaringan informasi pertanian di tingkat lokal dan nasional.
2. Membuka akses petani terhadap informasi pertanian untuk: 1) Meningkatkan peluang potensi peningkatan pendapatan dan cara pencapaiannya; 2) Meningkatkan kemam-puan petani dalam meningkatkan posisi tawarnya, serta 3) Meningkatkan kemam-puan petani dalam melakukan diversifikasi usahatani dan merelasikan komoditas yang diusahakannya dengan input yang tersedia, jumlah produksi yang diperlukan dan kemampuan pasar menyerap output.
3. Mendorong terlaksananya kegiatan pengembangan, pengelolaan dan peman-faatan informasi pertanian secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal.
4. Memfasilitasi dokumentasi informasi per-tanian di tingkat lokal (indigeneous know-ledge) yang dapat diakses secara lebih luas untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal.

Hambatan Yang Dihadapi

Meskipun disadari TIK memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung pembangun-an pertanian berkelanjutan, namun sampai saat ini petani di dunia, khususnya di Indonesia masih belum diperhitungkan dalam bisnis TIK dan lingkungan kebijakan. Fakta yang agak mengejutkan adalah bahwa aplikasi TIK memiliki kontribusi yang tidak terukur secara ekonomi bagi masing-masing
GDPs. Dalam waktu yang sama, pemanfaatan TIK dalam pembangunan pertanian berkelanjutan membutuhkan proses pendidikan dan peningkatan kapasitas karena masih terdapat kesenjangan secara teknis maupun keterampilan dalam bisnis ecara elektronik (e-business).

Berdasarkan Survei yang dilakukan oleh the International Society for Horticultural Sciences (ISHS) hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh petani khususnya petani hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan; kesenjangan dalam pelatihan (training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software. Untuk responden dari negara-negara berkembang menekankan pentingnya “biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan infrastruktur teknologi (Taragola et al. 2009).

TIK memiliki peranan yang sangat penting dalam pertanian modern dan menjaga keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan. Namun demikian, untuk wilayah negara-negara berkembang masih banyak mengalami kendala dalam aplikasinya untuk mendukung pemba-ngunan pertanian berkelanjutan. Tantangan yang umum dihadapi adalah bahwa akses telepon dan jaringan elektronik di perdesaan dan wilayah terpencil (remote area) sangat terbatas; telecenter yang menawarkan layanan TIK masih langka karena biaya yang diperlukan akibat tingginya investasi dan biaya operasional yang dibutuhkan. Kekurangan pada tingkatan lokal dalam aplikasi TIK perlu dipikirkan dalam merancang strategi aplikasi TIK sesuai dengan kondisi di lapangan yang spesifik lokasi baik melalui kapasitas teknologi tradisional, seperti siaran radio pemerintah dan masyarakat perdesaan dapat bekerja bersama untuk melayani pengguna atas dasar profitabilitas di samping ada unsur sosial untuk mendukung keberlanjutan aplikasi TIK di tingkat perdesaan.

Narasumber: Eko Setia Pinardi, STEI ITB
Puslitbang Tanaman Pangan – Badan Litbang Pertanian

Komentar:
-Kelebihan : fleksibel dalam dalam penyimpanan dan bisa menampung banyak data, memudahkan dalam hal transaksi, dan portable.

-Kekurangan : keterbatasan kemampuan, kesenjangan dalam pelatihan (training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software.

Jumat, 07 November 2014

Tantangan Dalam Mobile Forensik


            Secara umum, terdapat perbedaan dalam penanganan untuk digital/komputer forensik dengan mobile forensik, salah satu nya dapat dilihat dari banyaknya ragam sistem operasi yang berjalan pada perangkat mobile. Untuk komputer forensik, umumnya komputer berjalan diatas tiga vendor utama sistem operasi yaitu : MS Windows, OSX dari Apple, serta Linux dengan berbagai varian. Persentase pengguna sistem operasi tersebut dari tahun ke tahun tidak banyak perubahan, dengan urutan prosentase terbesar adalah Windows, Mac, Linux.

       Hal ini berbeda dengan yang terjadi pada dunia mobile, hampir setiap tahunnya terjadi pergerakan pengguna sistem yang kadang tidak dapat diprediksi sebelumnya.Berikut persentase pengguna sistem operasi untuk digital/komputer forensik dengan mobile forensik.
            Perubahan persentase pengguna sistem operasi mobile sangat dipengaruhi oleh produk-produk gadget yang dikeluarkan oleh suatu vendor. Pada komputer atau peralatan digital sejenis, umumnya satu vendor hanya akan menggunakan satu sistem operasi saja untuk produk-produk yang dihasilkannya. Tidak demikian dengan produk gadget.Satu vendor bisa mengeluarkan berbagai varian produk dengan sistem operasi yang sangat variatif.

          Samsung sebagai contoh, mengeluarkan banyak sekali produk gadget dengan varian produk berbagai jenis sistem operasi mobil yang ada.Demikian juga dengan Nokia, Sony Ericson dan vendor-vendor besar lainnya (belum lagi vendor-vendor China dan lokal).Dengan demikian begitu banyak sekali varian dari produk vendor dengan pemilihan sistem operasi yang juga sangat variatif. Dengan demikian sangatlah wajar apabila kemudian prosesntase pengguna sistem operasi mobile akan selalu bergerak setiap tahun tergantung dari penjualan produk-produk favorit.

      Kesulitan pertama yang akan dihadapi dalam bidang mobile forensik adalah memetakan karakteristik dari setiap Gagget dan vendornya. Setiap vendor memiliki karakteristik yang berbeda sejalan dengan inovasi dan keunggulan produk yang ditawarkannya.Setiap perbedaanya ini belum tentu dapat dengan mudah teridentifikasi secara sistem.

            Berbeda dengan sistem operasi pada komputer, walaupun Windows, OSX dan Linux berbeda, namun masing-masing telah memiliki pola yang disepakati dan diketahui secara luas tentang karakteristik dasarnya. Dengan demikian, walaupun banyak vendor komputer, namun semuanya memiliki karakteristik umum yang sama dalam hal cara kerja sistem komputernya. Tidaklah demikian dengan dunia mobile.

            Kesulitan kedua adalah dalam hal eksplorasi gadget yang menjadi fokus.Media utama untuk melakukan eksplorasi gadget adalah dengan menggunakan USB yang menghubungkan antara gadget dengan komputer.Dengan demikian harus dipastikan ketersediaan driver serta software kit bawaan dari vendornya. Sayangnya terkadang karena cepatnya perkembangan gadget, driver dan software kit yang tersedia terkadang tidak support dengan gadget yang akan dieksplorasi. 

            Dalam hal ini gadget berbasiskan Android relatif lebih mudah dan memiliki system support yang stabil dibandingkan dengan gadget yang lainnya. Hal ini tidak lepas dari dukungan dan komitmen Google untuk berkembangnya komunitas Android.

              Dua kesulitan tersebut setidaknya menjadi tantangan awal bagi ahli digital forensik untuk menangani data-data digital yang tersedia dalam perangkat mobile.

Untuk materi sebelumnya bisa dilihat disini:
Part 1 :  Sejarah Mobile Forensik
Part 2 :  Pengertian Mobile Forensik 
Untuk materi selanjunya bisa dilihat disini:
Part 4 :  Protokol Komunikasi Mobile dan Metode Penyimpanan Data
Part 5 :  Bukti Data Pada Mobile Forensik
Part 6 :  Tools Mobile Forensik 1
Part 7 :  Tools Mobile Forensik 2